Sejarah Desa Pandansari di Kecamatan Kejobong, Kabupaten Purbalingga, merupakan perpaduan antara legenda rakyat yang kental dan catatan administratif masa kolonial. Nama desa ini secara filosofis merujuk pada tanaman pandan yang harum, namun di baliknya terdapat kisah tokoh-tokoh yang dianggap sebagai pendiri (pepundhen) wilayah tersebut.
Berikut adalah ringkasan sejarah dan asal-usul Desa Pandansari:
1. Legenda Nyi Pandansari dan Ki Sura
Secara lisan, masyarakat meyakini bahwa nama desa ini berasal dari tokoh wanita bernama Nyi Pandansari.
-
Pertapaan di Gua: Menurut cerita rakyat, Nyi Pandansari adalah seorang tokoh yang melakukan tapa brata di wilayah tersebut (beberapa sumber menyebutkan di Gua Si Rahayu). Ia digambarkan sebagai sosok yang sederhana namun memiliki aura kepemimpinan dan kesaktian.
-
Filosofi Nama: Kata "Pandan" merujuk pada tanaman pandan yang banyak tumbuh di sana, sementara "Sari" bermakna inti atau keharuman. Secara simbolis, Pandansari bermakna "pranataning urip kang bisa gawe aruming bangsa" (tatanan hidup yang bisa mengharumkan nama bangsa).
-
Peran Ki Sura: Ada pula versi yang menyebutkan tokoh Ki Sura sebagai pembuka lahan (babad alas). Konon, saat sedang bertapa di bawah pohon pandan, ia mendapatkan petunjuk spiritual untuk membangun pemukiman di lokasi tersebut karena auranya yang tentram.
2. Perkembangan Masa Kolonial (Abad ke-19)
Berdasarkan data profil desa, catatan administratif mengenai Pandansari mulai muncul pada akhir abad ke-19:
-
Tahun 1889: Nama Pandansari tercatat sudah ada, namun wilayahnya belum menjadi satu kesatuan pemerintah desa seperti sekarang. Saat itu, wilayah ini masih berupa blok-blok pemukiman atau pedukuhan yang dipimpin oleh tokoh tertua di masing-masing lingkungan.
-
Kepemimpinan Danuwitirta: Tokoh bernama Danuwitirta tercatat sebagai Kepala Desa pertama. Ia terpilih setelah berhasil melewati "uji kekuatan" yang diadakan oleh pemerintah kolonial Belanda (konon melibatkan ritual di sebuah telaga). Di bawah kepemimpinannya, pusat pemerintahan berada di wilayah yang kini disebut Tamansari.
3. Struktur Wilayah dan Budaya
Seiring berjalannya waktu, beberapa pedukuhan seperti Tretepan dan Igipandan yang tadinya berdiri sendiri-sendiri akhirnya bergabung dalam satu administrasi Desa Pandansari.
Hingga saat ini, masyarakat Desa Pandansari masih menjaga tradisi leluhur, seperti:
-
Ruwat Bumi: Upacara syukur tahunan atas hasil bumi.
-
Pelestarian Makam Leluhur: Makam Nyi Pandansari masih dijaga dengan baik oleh warga sebagai bentuk penghormatan kepada pendiri desa.